Rabu, 08 April 2015

Sejarah Kota Samarinda

Sejarah Kota Samarinda


Sejak zaman dahulu putra-putra Sulawesi Selatan (Suku Bugis-Makasar)terkenal dengan jiwa pelaut yg gagah berani,dengan perahu Pinisnya,mereka pernah menguasai pelayaran di perairan sekitar Australia bahkan sampai ke Madagaskar.
Disulawesi Selatan khususnya ,sejak abad ke-14 ada beberapa kerajaan yg terkenal seperti: Kerajaan Gowa,Bone,Sidenreng,Suppa,Wajo,Soppeng,Ajattappareng dal Luwu. Banyaknya kerajaan-kerajaan tersebut,maka potensi konflik berupa gesekan-gesekan politik(kekuasaan) sangat signifikan untuk terjadi.Kerajaan Gowa dan Bone berhasil bersatu saat Sultan Hasaniddin memegang tahta kerajaan di Gowa.sebagian di antara mereka hijrah ke Kerajaan Kutai Kertanegara di bawah pimpinan La Mohang Daeng Mangkona.Rombongan tiba di Kalimantan Timur di atas tercatat dalam sejarah karena rombongan Panglima Limboto tercatat sebagai pendiri kampung Bugis di Tanjung Redeb Kabupaten berau , La Mohang Daeng Mangkona diberikan tempat oleh raja Kutai yg Belakangan menjadi kota Samarinda,Ibu Kota Propinsi Kalimantan Timur saat ini.                                   Semula rombongan tersebut memilih daerahsekitar muara sungai karang mumus (daerah Selili sekarang.Tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan di dalam pelayaran karena airnya berputar dan banyak kotoran sungai,selain itu terlindung oleh Gunung.kemudian mereka pindah kedaerah seberang, yakni Samarinda Seberang sakarang ini.                                    Dengan rumah rakit yang berada di atas air,harus sama tinggi antara rumah satu dan lainnya,yg melambangkan ”tidak ada perbedaan derajat,apakah bangsawan ataukah rakyat biasa,semua SAMA derajatnya”.Dengan lokasi yg berada disekitar muara sungai,dan kiri-kanan sungai dataran rendah atau “RENDA”. Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman tersebut dinamakan SAMARENDA atau lama kelamaan (dengan ejaan ) menjadi SAMARINDA.Setelah diadakan permufakatan antara mereka,maka perkampungan itu diberi nama SAMARENDA yang berarti:tidak ada yg lebih tinggi keturunan bangsawannya. Ini ditunjukan dengan rumah-rumah mereka yg di rakit-rakit,tidak ada yg lebih tinggi dari yang lainnya guna menampakan rasa persamaannya diantara mereka di rantau orang. sejak itulah perkampungan mereka dinamakan SAMARENDA dan sekarang ditulis dan diucapkan SAMARINDA.      Ketika pemerintah Belanda menjadikan lokasi Samarinda Kota sebagai pusat Pemerintahan di Afdeeling Oost-Borneo,maka peranan Samarinda kian berkurang dan akhirnya perkampungan Samarinda diubah menjadi SAMARINDA SEBERANG.Tidak berapa lama Samarinda sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di perairan Mahakam,dan penduduknya terus bertambah,baik dari pendatang orang Bugis maupun orang-orang Kutai di dekitarnya,sehingga terbentuk menjadi 3 kampung,yakni Kampung Mesjid,Kampung Dagang dan Kampung Pasar.          Kota Samarinda terus diperintah di baeah Pua Ado ( yg setiap pengangkatannya di setujui oleh raja Kutai ).Diadakan pemilihan Pua Ado baru,dan terpilihlah sepuppu La Mohang Daeng Mangkona,yg bernama La Sawedi Daeng Mappoji ( Sitebba ),Sebagai Pua Ado kedua.Samarinda bertambah pesat kemajuannya.Pelabuhan yg diperbesar ,memudahkan arus angkutan barang perdagangan antara Samarinda dengan Makasar dan kota-kota lainnya.Sebagaian besar penduduk Samarinda masih tunduk patuh kepada raja Kutai,sesuai dgn sumpah mereka dahulu untuk terus mengabdi kepada raja Kutai.raja-raja Kutai sejak kedatangan rombongan Bugis (tahun 1668 ),sudah ada percampuran darah dengan raja-raja Bugis,sehingga raja Kutai adalah raja mereka juga.


Masa Pemerintahan Pua Ado di Samarinda
Dari catatan yg dapat dikumpulkan bahwa dari tahun 1668 sampai dengan tahun 1906 ada 10 orang Pua Ado yg memerintah di Samarinda.sesudah tahun 1906 Samarinda diberi kedudukan sebagai Distrik Samarinda Seberang yg dipimpin oleh Raden Panji Ario Projo ( tahun 1906-1910 ) semasa Sultan Mohammad Alimuddin.
1.   La Mohang Daeng Mangkona (tahun 1673-1746 )
2. La Sawedi Daeng Mappoji sebagai Pua Ado II (tahun 1746-1750)
3. Kapitan Nahkoda La Tojeng Daeng Ripetta sbagai Pua Ado III (tahun 1750-1799)
4. Kapitan La Made Daeng Punggawa Gelar Pua Ado IV (tahun 1799-1817 )
5. Uwa’na Soeboe Gelar Pua Ado V (tahun 1799-1817 )
6. Uwa’na Pangole Gelar Pua Ado VI ( tahun 1817-1843 )
7.  Haji Siduppa Daeng Parani Gelar Pua Ado VII ( tahun 1843-1852 )
8. Haji Barong Daeng Parage Gelar Pua Ado VIII ( tahun 1852-1867 )
9. Puanna Rappe Daeng Pesuro Gelar Pua Ado IX ( tahun 1861-1867 )
10.     Ade Lompo E,yang Langsung Di Bawah Pengawasan Sultan ( tahun 1870-1906 )























Hubungan La Madukkelleng Dengan Raja Kutai

Hubungan La Madukkelleng Dengan Raja Kutai

La Maddukkelleng adalah putra Raja Wajo (Arung Paniki) yg melarikan diri dari Sulawesi Selatan karena tidak ingin diadili di Bone, menyebrangi selat makassar dan tiba di Paser kemudian melanjutkan pelayaran memasuki sungai Mahakam.La Madukkelleng meminta suaka kepada Raja Kutai dan diberi lokasi yg sekarang tepatnya berada di Samarinda Seberang.
Di lokasi inilah Warga Bugis melangsungkan hidupnya dengan bercocok tanam dan menjalankan ajaran Islam sehari-hari.Raja Kutai yg berkuasa ( Sultan Idris ) kemudian menikahi Putri La Maddukkelleng dan tinggal di Istana sebagai permaisuri Raja.
Dari pernikahannya dikaruniai 3(tiga ) putra. Sewaktu perang bergejolak di Sulawesi Selatan antara Raja2 Bugis melawan VOC, Sultan Idris membantu mertuanya (Raja Wajo) di Sulawesi Selatan dan gugur dalam pertempuran.jadi Makam Raja Kutai (Sultan Idris) berada di Wajo(Paniki).Karena Putra Sultan Idris masih kecil sehingga kekuasaan Raja Kutai diambil alih oleh Aji Kado.
Karena hawatir Putra Raja Kutai (Sultan Idris) sebagai pewaris kerajaan dibunuh oleh penguasa kerajan saat itu maka permaisuri mengirim ke tiga putranya ke Wajo dan di besarkan oleh kakeknya ( Arung Paniki). setelah Dewasa Putra Sultan Idris bernama Sultan Muslihudin (Aji Imbut) kembali ke Kutai. Dalam pelayararannya singgah di Samarinda seberang menghimpun kekuatan kemudian merebut kembali kekuasaan kerajaan Kutai yg dulu dipegang oleh Ayahandanya.
Selanjutnya Sultan Muslihuddin sebagai Raja Kutai memindahkan ibukota kerajaan ke Tepian Pandan dan mengganti nama kota itu menjadi Tangga Arung yg artinya kediaman Raja dan karena pengaruh dialeg setempat sekarang nama kota  menjadi Tenggarong yg sekarang menjadi ibokota kabupaten Kutai Kartanegara.

Makam Raja Kutai di Kabupaten Wajo

Makam Raja Kutai di Kabupaten Wajo


Di dalam komplek makam yang baru saja mengalami pemugaran atas bantuan Pemerintah Kabupaten Kutai Kertanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur tersebut, keseluruhan terdapat lima makam selain makam Arung Siengkang Lamaddukkelleng yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No.109/TK/1998 tanggal 6 Nopember 1998.
Bentuk nisan kelima makam tersebut berbeda satu dengan lainnya. Nisan Lamaddukelleng yang wafat tahun 1765 hanya berupa bongkahan batu yang digeletakkan di atas makam. Sedangkan makam Sultan Adji Muhammad Idris yang berdinding batu ditinggikan, nisannya menyerupai kelopak daun berukir.
13314693121473444213
Lima pusara dalam komplek makam Pahlawan Nasional Lamaddukkelleng di Kota sengkang/Ft: Mahaji Noesa
Makam La Tombong To Massekutta yang diperkirakan wafat tahun 1762, salah seorang putera Lamaddukkelleng, batu nisannya dibentuk menyerupai hulu keris (badik) berukir. Nisan dua makam lainnya yang juga tebuat dari batu alam, satu berbentuk perisai, dan satunya segi empat.
Dari Komplek Makam Lamaddukkelleng yang telah berlantai marmer ini kita dapat memandang vieuw indah pusat Kota Sengkang dengan Masjid Agung Ummul Qura yang menaranya dibangun berada di areal Lapangan Merdeka, dipisah jalur jalan poros menuju ke arah Kabupaten Soppeng.
Berada persis di tepi jalur utama Kota Sengkang, sepanjang waktu lingkungan komplek makam Pahlawan Nasional Lamaddukkelleng tak pernah sepi. Apalagi hanya sekitar 25 meter di seberang jalan, terletak sejumlah kantor dinas dalam lingkup Pemkab Wajo. Sedangkan di bagian belakang serta sisi kiri-kanan komplek diapit bangunan perkantoran dan perumahan penduduk.
Pemugaran makam Lamaddukkelleng yang menggunakan konstruksi atap tradisional Bugis tersebut, tampak menambah menawan kawasan pusat Kota Sengkang yang beberapa kali berturut dianugerahi penghargaan Piala Adipura untuk kategori Kota Kecil. Kota Sengkang sendiri dikenal dengan julukan sebagai Kota Sutera, lantaran wilayah di pesisir Danau Tempe inilah pusatnya pertenunan sarung sutera di Provinsi Sulawesi Selatan.
‘’Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara memberikan kita bantuan Rp 400 juta untuk melakukan pemugaran komplek makam Pahlawan Nasional Lamaddukkelleng yang didalamnya juga terdapat makam Raja Kutai Sultan Muhammad Idris,’’ jelas Bupati Wajo, Drs.H.Andi Burhanuddin Unru,MM dalam suatu kesempatan berbincang di Kota Sengkang.
Bupati yang merupakan putera dari Bupati Wajo pertama (1966- 1978) di Kabupaten Wajo, Kol (Purn TNI) H.Andi Unru, jika ditelisik silsilahnya juga merupakan cucu dari Lamaddukkelleng. Lantaran kakek dari kakeknya adalah Talebbe Ali Arung Ujung adalah Ranreng Tua yang pernah memerintah di Ujung Kalakka, Tosora.
Tak heran jika Medio 2011, pihak kesultanan Kutai Kertanegara secara khusus memberikan gelar panglima tertinggi ‘Tumenggung Kapitan Jaya’ kepada Bupati Wajo, H.Andi Burhanuddin Unru. Ritual pemberian gelar didahului dentuman meriam di Pendopo Kerajaan Kutai Kertanegara In Martadipura tersebut dilakukan langsung oleh pemangku kerajaan Kutai Sri Sultan H.Adji Mohammad Solehuddin 2.
Pemberian gelar tersebut dilakukan, setelah sebelumnya pihak Pemerintah Kukar melakukan kunjungan ke Kabupaten Wajo dan berziarah ke makam Sultan Adji Muhammad Idris di kompleks makam Pahlawan Nasional Lamaddukkelleng. Diperoleh keyakinan yang kuat, sejak masa lalu ada hubungan kekeluargaan yang sangat erat masyarakat di Kabupaten Wajo dengan penduduk di wilayah Kutai Kertanegara.
13314694361889323944
Pahlawan Nasional Lamaddukkelleng, karya pelukis supranatural Drs.Bachtiar Hafid/Ft: Mahaji Noesa
Dalam riwayat perjuangan Pahlawan Nasional Lamaddukkelleng, sangat jelas paparan dengan bukti kesejarahan yang kuat bahwa anak dari pasangan Mata Esso Lamadettia Arung Peneki (ayah) dan We Tenri Ampa (ibu) ini kawin dengan seorang puteri bangsawan Kutai. Lamaddukkelleng diperkirakan sudah menjelajah di wilayah Pasir, Kutai tahun 1714.
Mungkin itulah sebabnya Lamaddukelleng yang pasukan armada lautnya sangat ditakuti pihak Belanda pada abad XVII di perairan Indonesia Timur, perairan Filipina dan Selat Malaka, juga dapat diangkat sebagai Sultan Pasir alias Arung Pasere. Memerintah selama sekitar 10 tahun (1726 – 1736), sebelum ia kembali menjadi Arung Wajo (Raja Wajo) di kampung halamannnya (kini wilayah Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan) dari tahun 1736 – 1740.
Sultan Adji Muhammad Idris yang memerintah sebagai Sultan Kutai tahun 1732 – 1739 merupakan anak mantu, lantaran mempersunting salah seorang anak, puteri dari Lamaddukkelleng.
Ketika mertuanya, Lamaddukkelleng terdesak oleh serangan Belanda saat menjadi Arung Wajo, Sultan Adji Muhammad Idris meninggalkan tahtanya di Kutai datang ke Wajo bersama pasukannya untuk membantu perlawanan terhadap kolonialis Belanda. Diiperkirakan pada awal tahun 1739.
Belum ditemukan data yang pasti apa penyebab Sultan Adji Muhammad Idris wafat. Namun sejarawan Unhas, Prof.Dr.H.A.Zainal Abidin Farid (alm) dalam bukunya‘Kiat-kiat Kepahlawanan La Maddukkelleng Arung Matoa Wajo dalam Usaha Mengusir Orang-orang Belanda dari Makassar dalam peperangan melawan Belanda di Makassar’’ terbitan Pemkab Wajo (1994), memperkirakan Sultan terluka dalam suatu perang ketika dilakukan penyerangan terhadap Belanda di Makassar, lalu dibawa kembali ke Wajo, kemudian wafat serta dimakamkan di kampung halaman mertuanya.
Almarhum Sultan Adji Muhammad Idris yang kemudian tercatat dalam catatan lama di Sulawesi Selatan dengan gelar Darise Daenna Parasi Petta Kutai Petta Matinro ri Kawanne. Ada juga catatan yang menyebut Titian Aji dikaitkan dengan wafatnyaSultan Adji Muhammad Idris. Apakah nama itu merupakan sebutan lama yang menjadi lokasi tempat pemakaman yang kini menjadi komplek pemakaman Pahlawan Nasional Lamaddukkelleng di Kota Sengkang atau lokasi dimana Sultan wafat ketika melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda, masih dibutuhkan penelusuran data yang pasti.
Jika diperhatikan dari bentuk kelima makam yang ada di komplek pemakaman Pahlawan Nasional Lamaddukkelleng, maka boleh jadi makam Raja Kutai Sultan Adji Muhammad Idris yang pertama dikebumikan di lokasi tersebut. Tak hanya dilihat dari deretan makam Sultan yang letaknya paling utara, tapi juga dari bentuk makam yang terlihat dibuat lebih istimewa dari bentuk makam lainnya. Hal itu boleh terjadi, dengan asumsi, ketika Sultan Adji Muhammad Idris dimakamkan, sang mertua yang berkuasa sebagai Arung (Raja) Wajo, Lamaddukkelleng masih hidup.
Dalam seminar sejarah yang sudah dilakukan beberapa kali oleh Pemkab Kukar, termasuk pernah dilakukan di Kota Makassar menghadirkan narasumber sejumlah sejarawan nasional, disimpulkan perjuangan Sultan Kutai Sultan Adji Muhammad Idris sangat layak ditetapkan juga sebagai Pahlawan Nasional. Satu-satunya Sultan yang rela meninggalkan tahta kerajaan di Kutai untuk berjuang lintas daerah melawan kolonialis Belanda. Suatu sikap nasionalisme yang tinggi telah diperlihatkan Sultan Adji Muhammad Idris pada masanya. Sayangnya, usulan menjadikan Sultan Kutai ke-14 ini untuk menjadi Pahlawan Nasional belum juga tarsahuti oleh pemerintah pusat.
Mengenang perjuangan para raja-raja nusantara masa lalu, termasuk berkait dengan silsilahnya, menurut Bupati Wajo H.Andi Burhanuddin Unru bukan berarti kita akan kembali seperti jaman feodal atau jaman raja-raja dahulu.
‘’Tapi kita ingin kekuatan dan semangat persatuan nasional yang sudah diperlihatkan para leluhur masa lalu, dapat terus hidup menyemangati kondisi sekarang dalam membangun bangsa dan negara. Di Kabupaten Wajo khususnya, sejak dulu tidak dikenal pemimpin warisan. Karena itu dalam lambang daerah Kabupaten Wajo ada kutipan pesan leluhur yang dinyatakan dalam bahasa BugisMaradeka To WajoE Ade’na Napopuang – Orang-orang Wajo itu hidup merdeka hanya adat atau aturan yang disepakati yang dipertuan,’’ jelasnya.

Selasa, 07 April 2015

Asal Usul Bahasa Bugis

Asal Usul Bahasa Bugis




Art and Literature in South Sulawesi, Lontara, SouthsulawesiArticles.blogspot.com


Sebenarnya apa sih artinya bugis,terus kenapa bugis ini dijadikan kata juga lambang dari suku sulawesi selatan ?? kira-kira kenapa yah ?? mari kita bahas

Bugis sebenarnya merupakan suku dari Deutero melayu,atau melayu muda, masuk ke nusantara setelah gelombang migrasi pertama Asia tepatnya Yunan,kata bugis sendiri sebenarnya berasal dari kata To Ugi,yang berarti Orang bugis,penamaan Ugi sendiri merujuk pada raja pertama kerajaan Cina (Bukan tiongkok melainkan tetapi yang terdapat di Jazirah Sulawesi Selatan tepatnya kecamatan Pemmana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpungi
Nah selanjutnya ketika rakyat Lasatumpungi menamakan dirinya,mereka merujuk pada raja mereka,mereka menjulukidiri mereka sebagai To Ugi atau pengikut raja Lasattumpungi,Lasattumpungi sendiri adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara lattu ayahanda dari saweri gading



 Sedangkan Saweri gading sendiri adalah isteri dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo,dia yang membuat lebih dari 9000 halam folio karya sastra namanya pun sampai kini sangat tenar di sulawesi bahkan dijadikan nama untuksebuah museum.
Dalam perkembangan selanjutnya komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan lain dan kemudian membentuk aksara,bahasa dan pemerintahan mereka sendiri,beberapa kerajaan klasik yang terkenal adalah Luwu,Bone,Wajo,Soppeng,Suppa dan Sawitto (Pinrang),Sidrap (sidenreng dan Rappang),meski tersebar dan membentuk etnik bugis tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar dan sampai saat ini orang bugis tersebar di beberapa kabupaten antara lain Luwu,Bone,Wajo,Soppeng,Sidrap,Sinjai,Pinrang barru. Sedangkan daereha peralihan bugis dan makassar antara lain Bulukumba,Sinjai,maros,Pangkajene dan Kepulauan, Daerah peraliahan Bugis dan Mandar antara lain kabupaten Polmas dan Pinrang.

Dan karena masyarakat bugis tersebar di beberapa dataran rendah yang subur dan pesisir,maka kebanyakan dari masyarakat bugis hidup sebagai petani dan nelayan,mata pencaharian lain masyarakat bugis adalah pedagang,masyarakat bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan,konflik bugis dengan makassar apada abad 16,17,18,19 menyebabkan tidak tenangnya daerah bugis sulawesi selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang-orang bugis yang bermigrasi terutama didaerah pesisir dinusantara bahkan sampai ke malaysia,filipina,thailand. 

Asal usul orang bugis hingga saat ini masih belum jelas. Hal ini disebabkan oleh kurangya bukti otentik baik berupa prasasti atau dokumen-dokumen sejarah yang dapat mendukung penelusuran sejarah orang Bugis. Sumber tertulis setempat yang dapat diandalkan hanya berisi informasi abad ke 15 dan sesudahnya.

Art in South Sulawesi, Southsulawesiarticles.blogspot.com
Pinisi
Akan tetapi, Orang Bugis zaman dahulu, menganggap nenek moyang mereka adalah pribumi yang telah didatangi titisan langsung dari “dunia atas” yang “turun” (manurung) atau dari “dunia bawah” yang “naik” (tompo) untuk membawa norma dan aturan sosial ke bumi (Pelras, The Bugis, 2006)

Menurut riwayat kuno bahwa to manurung pertama yang menginjakkan kakinya di dataran Sulawesi adalah Tamboro Langi’. Dia berdiri di puncak Gunung Latimojong. Ketika itu, daerah sulawesi tergenang air dan hanya puncak Gunung Latimojong bagian selatan dan bagian tengah yang masih kering. Tamboro Langi kemudian menikah dengan  Tande Bili, seorang dewi yang muncul dari sungai Saddang. Mereka memiliki putra yang bernama Sandaboro yang selanjutnya melahirkan La Kipadada. La Kipadada inilah yang membangun tiga kerajaan besar yaitu, Rongkong (asal mula kerjaan Toraja), Luwu (asal mula kerjaan bugis) dan Gowa (asal mula kerjaan Makassar).





Mengenal Arti Nama Wajo

  1. A.   Arti Nama Wajo
  2. .Wajo menurut orang bugis diartikan sebagai bayangan atau bayang-bayang    ( wajo-wajo ).Kata Wajo dipergunakan sebagai identitas masyarakat 605 tahun yang lalu yang menunjukkan kawasan merdeka dan berdaulat dari kerajaan-kerajaan besar pada saat itu.

  3. B.     Kaitan Antara pohon bajo dan nama daerah Wajo
  4. Pada saat  itu tidak jauh dari daerah Boli, terdapat pohon besar raksasa yang bernama pohon bajo. Akhirnya penduduk daerah Boli lalu berbondong-bondong menuju pohon bajo untuk mencari tempat perlindungan atau tempat berteduh dari panas. Cara penduduk   daerah Boli agar terhindar dari panas matahari yaitu dengan cara mengambil daun pohon bajo yang amat besar. Menurut pendapat seorang ahli sejarah, satu daun dari pohon bajo dapat melindungi tujuh orang penduduk dari panas pada saat itu. Akhirnya , semua penduduk pada saat itu  lalu menyetujui mengganti nama daerah yang  dulunya daerah Boli menjadi daerah Wajo. Wajo sendiri diartikan sebagai tempat perlindungan.Dalam bahasa bugis yaitu wajo-wajo (bayang-bayang) atau bayangan. Karena pohon bajo dapat menyelamatkan nyawa banyak penduduk dari panas  dengan daun yang besar. Pergantian nama daerah menjadi daerah Wajo akhirnya disahkan di daerah Tosora oleh La Tenribali( batara wajo pertama) dan 3 orang Paddanreng yaitu La Tenritau, La Tenripekka , dan La Matareng.Tidak lama kemudian, terbentuklah  lambang dan semboyang daerah Wajo yang tidak akan pernah tergantikan.

  5. C. Makna dari Lambang Daerah Wajo
  6. Makna dari lambang daerah Wajo yaitu ditengah lambang tersebut berdiri sebuah pohon yang mempunyai 3 akar tunggang, maknanya ialahbentuk asal daerah kabupaten Wajoyang terdiri dari 3 limpo yaitu Majauleng(bentengpola), Sabbangparu(Talotenreng) , dan Takkalalla(Tua). Di antara akarnya bertuliskan huruf lonarak bajo, maknanya ialah asal mula perkataan wajo.Disamping kiri kanan diapit gambar padi dan jagung berserta gambar ikan dan kerang,maknanya ialah kemakmuran yang pokok didaerah Wajo.Bentuk lambangnya seperti perisai , maknanya kesiap siagaan menghdapi setipa kemungkinan yang mengancam masyarakat Wajo.Letter W berbentuk ornament (hiasan), maknanya ialah melambangkan seni ukir ( kesenian yang berkembang didaerah Wajo.Warna merah dan kuning yang ada pada lambang daerah wajo,maknanya ialah merah bermakna berani karena benar dan kuning bermakna indah dan mulia.Kedua warna tersebut adalah warna simbolis bagi jiwa masyarakat Wajo.Bidang lambing yang berwarna putih yang diapit merah mencerminkan kepribadian masyarakat/rakyat Wajo ialah keberaniannya yang di sandarkan pada kesucian.
  7. D. Arti Semboyang Wajo
  8. Sebuah pita emas melintang sebagai pengikat dari lambang tersebut yang bertuliskan “Maradeka To Wajoe Ade’na Napopuang” yang berarti rakyat Wajo merdeka adatlah yang dipertuankan

Arti Lambang Kab. Wajo

ARTI LAMBANG KABUPATEN WAJO





I . POHON BAJO
a.      Bertangkai/cabang tiga ialah bentuk asal daerah kabupaten Wajo yang terdiri dari tiga (3) Limpo :
1.Majauleng ( Benteng Pola )
2. Sabbangparu ( Talotenreng )
3. Takkalalla ( Tua )
                   b.   Batang lurus adalah bercita-cita tinggi penuh kejujuran.
                     c.   Daun sebanyak 30 lembar dan berwarna hijau melambangkan Dewan Rakyat    
                           Wajo ( ketika terciptanya Republik Wajo pada Abad XIV ) dan cita – cita kemak –
                           muran negeri.
                     d.  Pada akar Pohon tertulis aksara bugis menyatakan asal perkataan Wajo.

II. PITA
Pada pita terbentang terdapat salah satu dari pandangan hidup masyarakat / rakyat Wajo “ MARADEKA TOWAJOE ADENA NAPOPUANG “ artinya rakyat Wajo merdeka konstitusinya yang dipertuan dengan warna hijau yang diartikan makmur/subur.

III. PADI, JAGUNG, IKAN, GULA
Kesemuanya melambangkan kemakmuran yang pokok di daerah Wajo
IV. LETTER W
Letter W yang berbentuk ornament ( hiasan ) melambangkan seni Ukir ( kesenian yang berkembang didaerah wajo )

V. WARNA KUNING DAN MERAH
- Merah berani karena benar
- Kuning indah dan mulia
- Kedua warna tersebut adalah warna simbolis bagi jiwa masyarakat Wajo.

VI. WARNA DASAR
Bidang lambing yang berwarna putih yang diapit merah mencerminkan kepribadian masyarakat/rakyat wajo ialah keberanianyang disandarkan pada kesucian.

VII. BENTUK LAMBANG
Bentuk perisai Tameng artinya kesiap siagaan menghadapi setiap kemungkinan yang mengancam masyarakat Wajo.

Mengenal Lebih Dekat Bugis Wajo

A. JATI DIRI ORANG BUGIS WAJO


      

         Dimana ada peluang bisnis, disanalah saudara dapat berjumpa orang Wajo. Perumpamaan itu menunjukkan bahwa betapa orang bugis memiliki sifat kewirausahaan yang tinggi, yang telah mendarah daging pada setiap pribadi Wajo. Tellu Ampikalena To Wajoe (tiga prinsip hidup orang Wajo) yaitu tau’E ri Dewata’E, Siri’E ri padatta rupatau, Siri’E ri watakkale (ketaqwaan pada allah s.w.t. rasa malu pada orang lain dan pada diri sendiri). Tiga prinsip hidup inilah yang membuat orang Wajo memiliki etos kerja yaitu resopa natinulu natemmangingi,nalomona nalettei pammase deawata Seuwae (hanya dengan kerja keras, rajin dan ulet, kita mendapat keridhaan Allah Swt). Selain itu hal ini dilatar belakangi oleh keinginan orang wajo untuk merdeka dan sebagai tanda protes kepada raja yang memerintah secara tidak adil dan mereka tidak mungkin melakukan perlawanan fisik, maka bentuk perlawanannya ialah meninggalkan negerinya. Bilamana Batara Wajo atau Arung Matoa Wajo tidak menegakkan citra abstraksi konstitusi Kerajaan Wajo yang tersirat dalam ucapan “Maradeka To-Wajo’e Ade’ Emmi napopuang” (Rakyat Wajo merdeka, hukum yang dipertuan) maka ketika itulah rakyat mengingatkan pada Bataraperihal “Perjanjian Cinnotabi” yang substansial meletakkan dasar tatanan kemasyarakatan dan kenegaraan “Republik Wajo”. Yang kita tahu, setelah kekalahan Kerajaan Wajo dari Kerajaan Bone yang bersekutu dengan Belanda, masyarakat Wajo didera kemiskinan. Itulah sebabnya mereka meninggalkan negerinya untuk mencari lapangan kehidupan yang lebih baik. Untuk mereka ini, sadar atau tidak, mereka berpedoman pada makna dari untaian kata-kata “lebbimui mate maddarae dari mate tammanre”, artinya adalah “ lebih berharga mati berdarah daripada mati kelaparan”. Apalagi orang Bugis itu pantang terhadap apa yang disebut “berpangku tangan”, mereka selalu berpegang pada ungkapan: “Resopa temmangngingi, malomo naletei pammase Dewata” (hanyalah usaha yang tidak kenal lelah dan putus asa, memungkinkan dianugrahi berkah Dewata).
        Satu lagi mengenai orang bugisWajo, yaitu siri'Siri' dalam Bahasa Indonesia dapat berati rasa malu atau lebih tepatnya lagi harkat martabat. Assosoreng iyya mparekkenggi sirina assilomperengna artinya keturunan yang diajarkan bagaimana mempertahankan kehormatan keluarga. assosoreng iyya sitinasai passilennereng siri'na padanna rupa tau, kuetopa paimengartinya keturunan yang diajarkan menjaga martabat orang lain dan dirinya sendiri. Dan masih banyak lagi peribahasa peribahasa orang bugis yang menggambarkan betapa orang bugis itu, khususnya di Wajo sangat menjaga yang namanya siri'. Jika orang bugis sudah merasa dipermalukan, dihina, maka ia rela melakukan tindakan apapun demi memperbaiki kehormatan dirinya dan keluarganya. Inilah salah satu yang membedakan suku bugis dengan suku lainnya di Indonesia, khususnya bagian Timur. Saya mengambil contoh kecil dalam masyarakat, anak muda wajo akan merasa masiri'  kalo tidak memakai pakaian yang bermerek, mereka akan malu jika tidak pakai celana merek Levi's atau Boss (contoh broth), dibandingkan suku di Papua yang sudah merasa cukup dengan koteka saja.