A.SEJARAH KERAJAAN WAJO
Sebagaimana halnya daerah-daerah di
Sulawesi Selatan pada umumnya yang berasal dari kerajaan-kerajaan kecil,
rasanya kurang lengkap bila tidak membahas salah satu kerajaan tertua
yaitu Kerajaan Wajo. Pada masa jayanya, Kerajaan Wajo meliputi beberapa
wilayah seperti Kabupaten Sidrap, Bone dan Soppeng serta seluruh wilayah
Kabupaten Wajo saat ini. Menurut beberapa sumber, Wajo dibentuk sekitar
tahun 1300-an oleh tiga pemimpin negeri, yaitu Bentengpola, Talok
Tenreng dan Tuwa. Ketiga pemimpin negeri yang masing-masing disebut
Arung ini sepakat membentuk kerajaan bersama yang Dipimpin oleh seorang
Arung Matowa. Tahun 1948 adalah tahun berakhirnya pemerintahan Kerajaan
Wajo, ketika pemerintah Republik Indonesia menghapuskan kekuasaan raja
di daerah. Reruntuhan kerajaan yang nyaris tak berbekas seolah tak mampu
mengungkap kebesarannya. Bahkan kini hanya tersisa satu komunitas
pewaris Kerajaan Wajo, yaitu keluarga atau Rumpung Bentengpola. Rumpung
Bentengpola merupakan komunitas yang menjadi pilar utama Kerajaan Wajo.
Saat ini komunitas itu memiliki seorang pemimpin yang masih dianggap
sebagai raja, yaitu Datu Sangaji, Arung Bentengpola generasi ke-28.
Secara administratif maupun struktural, Arung Bentengpola kini tidak
memiliki kewenangan. Namun demikian, keberadaannya dianggap mewakili
tokoh informal.
Beberapa saat yang lalu, Rumpung Bentengpola
menggelar ritual penobatan ulang Arung Bentengpola, yang kini berusia 80
tahun. Pesta yang sudah lebih dari lima puluh tahun tidak pernah
diadakan. Ritual yang hampir mirip dengan ritual perjamuan oleh sang
raja ini, dilengkapi dengan semua bentuk kesenian yang dilakukan oleh
Para Bissu. Bissu adalah para abdi kerajaan yang terdiri dari para
waria.
Komunitas Arung Bentengpola yang masih tersisa sampai saat
ini, bisa menjadi sebuah mosaik untuk memahami Kerajaan Wajo.
Pemerintahan Kerajaan Wajo menempatkan Arung Bentengpola sebagai lembaga
yang mengangkat dan melengserkan Arung Matowa atau raja Kerajaan Wajo.
Inilah keunikan yang membedakan antara Kerajaan Wajo dengan kerajaan
Bugis lainnya.
Sumber lain menyatakan bahwa Kerajaan Wajo didirikan
sekitar tahun 1450, di wilayah yang menjadi Kabupaten Wajo saat ini di
Sulawesi Selatan. Penguasanya disebut “Raja Wajo”. Wajo adalah
kelanjutan dari kerajaan sebelumnya yaitu Cinnotabi. Ada tradisi lisan
yakni pau-pau rikadong dianggap sebagai kisah terbentuknya wajo. yaitu
putri dari Luwu, We Tadampali yang mengidap sakit kulit kemudian
diasingkan dan terdampar di Tosora. Selanjutnya beliau bertemu dengan
putra Arumpone yang sedang berburu. Akhirnya mereka menikah dan
membentuk dinasti di Wajo. Ada juga tradisi lisan lain yaitu kisah La
Banra, seorang pangeran Soppeng yang merantau ke Sajoanging dan membuka
tanah di Cinnotabi. Wajo mengalami perubahan struktural pasca Perjanjian
Lapadeppa yang berisi tentang pengakuan hak-hak kemerdekaan orang Wajo.
Dimana posisi Batara Wajo yang bersifat monarki absolut diganti menjadi
Arung Matowa yang bersifat monarki konstitusional.
Masa keemasan
Wajo dicapai di pemerintahan La Tadampare Puangrimaggalatung. Wajo
menjadi anggota persekutuan Tellumpucue sebagai saudara tengah bersama
Bone sebagai saudara tua dan Soppeng sebagai saudara bungsu. Wajo
memeluk Islam secara resmi ditahun 1610 pada pemerintahan La Sangkuru
patau mulajaji sultan Abdurahman dan Dato Sulaiman menjadi Qadhi pertama
Wajo. Setelah Dato Sulaiman kembali ke Luwu melanjutkan dakwah yang
telah dilakukan sebelumnya, Dato ri Tiro melanjutkan tugas Dato
Sulaiman. Setelah selesai Dato ri Tiro ke Bulukumba dan meninggal disana
Wajo terlibat perang Makassar 1660-1669 disebabkan karena persoalan
geopolitik di dataran tengah sulawesi yang tidak stabil dan posisi Arung
Matowa La Tenrilai To Sengngeng sebagai menantu Sultan Hasanuddin.
Kekalahan Gowa tidak menyebabkan La Tenrilai rela untuk menandatangani
perjanjian Bongayya, sehingga Wajo diserang oleh pasukan gabungan
setelah terlebih dahulu Lamuru yang juga berpihak ke Sultan Hasanuddin
juga diserang.
Kekalahan Wajo menyebabkan banyak masyarakatnya pergi
meninggalkan Wajo dan membangun komunitas sosial ekonomi didaerah
rantauannya. La Mohang Daeng Mangkona salah satu panglima perang Wajo
yang tidak terima kekalahan merantau ke Kutai dan membuka lahan yang
kini dikenal sebagai Samarinda.
Raja Wajo, yang disebut sebagai
Arung Matowa bukan merupakan jabatan yang turun temurun. Arung Matowa
dipilih dari rakyat Wajo dan diangkat oleh perwakilan rakyat Wajo yang
dipimpin Arung Bentengpola. Siapa sangka, kerajaan yang dibangun
beratus-ratus tahun lalu ini memiliki sistem demokrasi yang modern.
Sesungguhnya ini adalah warisan yang amat berharga bagi masyarakat kini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar